Warga Desa Tulehu, Maluku Tengah, akhirnya menutup konflik panjang antar keluarga dengan tradisi adat unik “Makan Patita”.
Ritual ini menyatukan warga melalui hidangan bersama, simbol perdamaian, rekonsiliasi, dan persatuan. Setelah dua bulan pertikaian terkait batas lahan, sumpah adat ini berhasil mengembalikan keharmonisan desa, menguatkan ikatan sosial, serta memberi inspirasi bagi desa lain di Maluku. Temukan berbagai informasi menarik dan bermanfaat untuk menambah wawasan Anda, hanya di Info Kejadian Maluku.
Makan Patita’ Damai Konflik Warga Maluku Tengah
Warga Desa Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, akhirnya menutup konflik panjang yang terjadi antar keluarga dengan menggelar sumpah adat dan tradisi “Makan Patita”. Kegiatan ini digelar di halaman balai desa, dihadiri tokoh adat, kepala desa, serta seluruh warga yang terlibat dalam pertikaian.
Tradisi “Makan Patita” merupakan salah satu ritual adat Maluku yang digunakan untuk menyelesaikan perselisihan secara damai. Dalam tradisi ini, pihak yang berselisih menyantap hidangan bersama sebagai simbol perdamaian dan penguatan ikatan sosial antar keluarga.
Kepala Desa Tulehu, Slamet Rahayu, mengatakan bahwa upacara ini menjadi bukti pentingnya adat dalam menjaga keharmonisan masyarakat. “Ini bukan sekadar ritual, tapi simbol persatuan dan penebusan kesalahan antar warga,” ujarnya.
Perselisihan Lama Mengguncang Desa Tulehu
Pertikaian di Desa Tulehu berlangsung selama lebih dari dua bulan, dipicu oleh masalah tanah dan batas lahan pertanian antar warga. Konflik ini sempat menimbulkan ketegangan di lingkungan desa, bahkan beberapa warga sempat menahan diri untuk beraktivitas seperti biasa.
Menurut tokoh adat setempat, konflik seperti ini sebenarnya bisa diatasi sejak awal melalui mediasi tradisional, namun kurangnya komunikasi dan kesalahpahaman membuat masalah berkembang. “Kami melihat bahwa peran adat sangat penting untuk menyelesaikan masalah sebelum berujung pada kekerasan,” jelas Patimura, tokoh adat Tulehu.
Selama masa konflik, kepala desa dan perangkatnya telah berulang kali mencoba menengahi kedua pihak. Namun, kesepakatan baru tercapai ketika warga sepakat melakukan ritual adat “Makan Patita”, yang dipercaya mampu mengikat sumpah dan janji damai antar keluarga.
Baca Juga: Polres Maluku Tenggara Serahkan 2 Tersangka Kasus Pembacokan ke Jaksa
Makna Sumpah Adat dan Tradisi “Makan Patita”
Tradisi “Makan Patita” bukan sekadar makan bersama, melainkan ritual yang sarat makna spiritual dan sosial. Setiap pihak yang berselisih menyantap hidangan yang disiapkan dengan doa dan mantra adat, sebagai simbol penebusan kesalahan dan rekonsiliasi.
Selain itu, ritual ini juga menekankan pentingnya rasa hormat terhadap sesama, menjaga keharmonisan keluarga, dan memperkuat persatuan desa. Tokoh adat menegaskan bahwa ritual ini tidak hanya menyelesaikan masalah saat itu, tapi juga menjadi pengingat agar warga hidup rukun.
“Dengan makan bersama dalam sumpah adat, semua pihak berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan dan menjaga perdamaian. Ini adalah bentuk nyata dari nilai budaya Maluku yang luhur,” tambah Patimura.
Warga Desa Sambut Perdamaian dengan Optimisme
Setelah ritual selesai, warga Desa Tulehu tampak lega dan penuh semangat untuk kembali membangun kerukunan. Anak-anak kembali bermain di halaman, sementara para tetua saling berjabat tangan dan berbagi senyum sebagai simbol kedamaian.
Kepala Desa Slamet Rahayu menekankan bahwa perdamaian ini harus dijaga bersama-sama. “Ini bukan akhir dari tanggung jawab, tapi awal baru untuk hidup rukun. Warga harus saling mengingatkan agar pertikaian seperti ini tidak terjadi lagi,” katanya.
Warga berharap tradisi “Makan Patita” dapat menjadi inspirasi bagi desa lain di Maluku Tengah dalam menyelesaikan konflik. Dengan kearifan lokal dan semangat gotong-royong, masyarakat yakin bahwa perdamaian dan keharmonisan dapat terjaga untuk generasi mendatang.
Simak dan ikuti berita terupdate lainnya tentang maluku dan sekitarnya secara lengkap tentunya terpercaya hanya di Info Kejadian Maluku.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari regional.kompas.com