Awal 2026, petani Maluku menghadapi tekanan berat karena Nilai Tukar Petani (NTP) mereka tercatat terendah se-Indonesia.
Kabar kurang menggembirakan datang dari Maluku. Awal 2026, kesejahteraan petani kembali menjadi perhatian serius. Data terbaru menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku terendah di Indonesia, memicu keprihatinan dan menuntut evaluasi mendalam sektor pertanian.
Temukan berbagai informasi menarik dan bermanfaat untuk menambah wawasan Anda, hanya di Info Kejadian Maluku.
Potret Suram Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku
Provinsi Maluku kembali menempati posisi terendah dalam capaian Nilai Tukar Petani (NTP) di Indonesia pada Januari 2026. Angka NTP Maluku tercatat sebesar 92,93. Kondisi ini menempatkan Maluku di peringkat buncit dari total 38 provinsi yang ada, mengindikasikan adanya tantangan serius dalam sektor pertanian wilayah tersebut.
Angka 92,93 ini menunjukkan penurunan signifikan sebesar 1,44 persen dibandingkan dengan NTP Maluku pada Desember 2025, yang saat itu tercatat 94,30. Penurunan ini menandakan adanya tekanan ekonomi yang semakin berat bagi para petani di Maluku. Ini menjadi indikator daya beli petani yang melemah secara berkelanjutan.
Sebagai perbandingan, Provinsi Bengkulu mencatatkan NTP tertinggi di Indonesia dengan angka 204,99. Perbedaan yang mencolok ini menggambarkan disparitas kesejahteraan petani antar-provinsi. Hal ini menyoroti perlunya perhatian lebih terhadap kondisi pertanian di Maluku agar kesenjangan ini tidak semakin melebar.
Faktor-Faktor Pemicu Penurunan NTP
Penurunan NTP Maluku pada Januari 2026 tidak lepas dari beberapa faktor kunci. Jessica Pupella, Statistisi ahli madya, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah penurunan indeks harga hasil produksi pertanian (It) sebesar 0,31 persen. Ini menunjukkan bahwa harga jual produk pertanian petani Maluku cenderung menurun.
Di sisi lain, terjadi peningkatan pada indeks harga yang harus dibayar petani (Ib) sebesar 1,15 persen. Peningkatan ini mencakup biaya produksi dan konsumsi rumah tangga petani. Kombinasi harga jual yang rendah dan biaya yang tinggi ini secara langsung menekan pendapatan dan daya beli petani.
Lebih lanjut, empat subsektor pertanian utama menyumbang pada penurunan NTP ini. Subsektor tanaman pangan turun 1,00 persen, hortikultura anjlok 2,78 persen, tanaman perkebunan rakyat minus 1,95 persen, dan peternakan juga turun 0,92 persen. Hanya subsektor perikanan yang mencatatkan peningkatan NTP sebesar 1,30 persen.
Baca Juga: Polda Maluku Gelar Operasi Pekat Salawaku, Ribuan Liter Miras Disita
Tren Penurunan Jangka Panjang
Penurunan NTP di Maluku ternyata bukan fenomena baru di awal tahun 2026. Data menunjukkan bahwa NTP Maluku sejak Januari hingga Desember 2025 secara kumulatif lebih rendah 3,47 persen dibandingkan NTP pada periode yang sama di tahun 2024. Ini mengindikasikan adanya tren penurunan berkelanjutan yang perlu diwaspadai.
Kontribusi terbesar terhadap rendahnya NTP sepanjang tahun 2025 dipicu oleh penurunan signifikan pada subsektor tanaman perkebunan rakyat. Subsektor ini mencatatkan penurunan sebesar 6,94 persen, menjadi penarik utama anjloknya NTP secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan kerentanan spesifik pada komoditas perkebunan di Maluku.
Meskipun demikian, ada secercah harapan dari subsektor perikanan yang menunjukkan kinerja positif dengan NTP tertinggi sebesar 110,63. Sementara itu, subsektor tanaman pangan berada di posisi terendah dengan NTP 87,87. Kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk melakukan diversifikasi dan penguatan pada sektor-sektor yang berpotensi.
Pentingnya Nilai Tukar Petani (NTP)
Nilai Tukar Petani (NTP) adalah indikator krusial yang mengukur perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dan indeks harga yang dibayar petani (Ib). Angka ini berfungsi sebagai barometer untuk melihat kemampuan atau daya beli petani di wilayah pedesaan. Angka di bawah 100 menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan petani lebih besar dari pendapatan mereka.
NTP juga memberikan gambaran mengenai daya tukar (terms of trade) produk pertanian. Ini mencakup perbandingan antara nilai jual produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi petani, serta biaya produksi yang harus mereka tanggung. Oleh karena itu, penurunan NTP secara berkelanjutan mengindikasikan bahwa kesejahteraan petani sedang terancam.
Situasi di Maluku ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pemangku kepentingan terkait. Intervensi kebijakan yang tepat dan terarah diperlukan untuk menstabilkan harga komoditas pertanian, menekan biaya produksi, dan meningkatkan daya saing produk petani Maluku. Tujuannya adalah untuk mewujudkan kesejahteraan petani yang berkelanjutan.
Simak dan ikuti berita terupdate lainnya tentang Maluku dan sekitarnya secara lengkap tentunya terpercaya hanya di Info Kejadian Maluku.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari ambon.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari rri.co.id