Polda Maluku menunjukkan keseriusan penuh dalam mengamankan perhelatan akbar Banda Heritage Festival (BHF) 2025.

Dari rapat yang dipimpin langsung oleh Irjen Pol Dadang Hartanto (Kapolda Maluku), dihadiri Wakapolda dan pejabat utama, serta seluruh jajaran terkait melalui daring, disiapkan seluruh skema pengamanan mulai dari darat hingga laut.
Pengerahan Pasukan Pengamanan Skala Besar
Dalam rapat yang berlangsung pada 21 November 2025, Polda Maluku mengerahkan sebanyak 280 personel gabungan yang melibatkan Polda Maluku, Polresta Pulau Ambon, Kepolisian Pulau-Pulau Lease, dan Polres Maluku Tengah.
Personel ini ditempatkan secara strategis dengan pola operasi berlapis: dari titik kedatangan wisatawan dan tamu VIP, jalur laut yang menjadi akses utama ke Banda Neira, hingga lokasi-lokasi festival serta jalur penginapan.
Pengamanan VIP menjadi salah satu fokus utama pengawalan walpri (walikota/menteri) dan patroli jalan (patwal) disiapkan sesuai prosedur standar operasional, di bawah kendali penuh Kapolda Maluku.
Di sisi lain, mobilisasi personel di wilayah kepulauan seperti Banda Neira menjadi tantangan tersendiri hingga pihak keamanan memperhitungkan logistik, kecepatan penyiapan respons darurat, serta kondisi cuaca laut sebagai bagian dari skema pengamanan.
Fokus Pengamanan dan Standar Operasional
Fokus pengamanan oleh Kepolisian Daerah Maluku (Polda Maluku) untuk Banda Heritage Festival 2025 diarahkan pada sejumlah area kritis yang memerlukan perhatian khusus.
Personel disiapkan untuk mengamankan jalur kedatangan wisatawan. Rute transportasi laut dan darat, lokasi acara, area penginapan, serta titik-keramaian di pulau Banda Neira.
Hal ini penting karena festival mengundang tamu domestik dan mancanegara, termasuk pejabat negara. Sehingga potensi kerawanan seperti konsentrasi massa, kemacetan, dan gangguan laut menjadi skenario yang harus diantisipasi.
Standar operasional pengamanan yang diterapkan mencakup pelaksanaan tugas berdasarkan prosedur baku (SOP) pengawalan VIP/VVIP, manajemen risiko, dan pendekatan humanis terhadap masyarakat dan pengunjung.
Dalam latihan pra-operasi sebelum acara. Polda Maluku menekankan bahwa kesiapan personel tidak hanya soal kehadiran fisik. Tetapi juga penguasaan materi, deteksi dini kerawanan, komunikasi yang efektif, serta pelayanan publik yang ramah dan profesional.
Baca Juga: Kapolda Maluku Pastikan Proses Seleksi Bintara Brimob Bersih
Rapat Kesiapan Latihan Pra-Operasi

Rapat kesiapan Latihan Pra-Operasi (Latpraops) yang digelar Polda Maluku menjelang Banda Heritage Festival 2025 bertujuan untuk menyamakan persepsi dan memastikan seluruh personel memahami skema pengamanan yang akan diterapkan.
Dalam rapat tersebut, Kapolda Maluku, Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, menekankan pentingnya koordinasi lintas satuan. Baik antara Polda, Polres Maluku Tengah, Polresta Pulau Ambon, maupun jajaran Polsek di pulau-pulau Lease.
Setiap pihak diberi arahan terkait area tanggung jawab, prosedur pengawalan VIP/VVIP, pengamanan jalur laut. Serta antisipasi kerawanan yang mungkin muncul selama festival.
Latpraops ini juga menjadi momen untuk menguji kesiapan personel dalam menghadapi berbagai skenario. Termasuk lonjakan pengunjung, kondisi cuaca buruk, serta potensi gangguan keamanan di jalur laut dan darat.
Wakapolda Maluku, Brigjen Pol Imam Thobroni, menekankan bahwa latihan ini bukan sekadar formalitas. Melainkan bagian dari standar operasional pengamanan yang mengedepankan profesionalisme, koordinasi cepat, dan pelayanan publik yang humanis.
Tujuan Banda Heritage Festival 2025
Banda Heritage Festival 2025 diselenggarakan dengan tujuan utama untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya serta sejarah Banda Neira.
Festival ini menampilkan berbagai kegiatan. Termasuk pertunjukan seni tradisional, pameran kerajinan lokal. Serta tur sejarah ke situs-situs bersejarah yang menjadi saksi kejayaan rempah-rempah di era kolonial.
Dengan menonjolkan nilai sejarah dan budaya, festival diharapkan tidak hanya menjadi hiburan semata. Tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi pengunjung lokal maupun mancanegara.
Selain aspek budaya, festival ini bertujuan untuk mendorong pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal.
Dengan menarik wisatawan dari berbagai daerah, festival memberi peluang bagi pelaku usaha lokal. Mulai dari hotel, restoran, hingga pedagang cenderamata, untuk meningkatkan pendapatan mereka.
Hal ini sejalan dengan strategi pemerintah daerah Maluku dalam menjadikan Banda Neira sebagai destinasi wisata unggulan, sekaligus memperkuat identitas kawasan sebagai pusat sejarah dan budaya rempah yang diakui secara nasional maupun internasional.
Untuk informasi terkini dan lengkap mengenai berbagai kejadian penting di Maluku, termasuk insiden keamanan dan bencana alam, kalian bisa kunjungi Info Kejadian Maluku sekarang juga.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.detik.com
- Gambar Kedua dari www.malukuterkini.com